Selamat Datang Di Website Belajar Matematika Merupakan Kumpulan Materi Matematika SD, Materi Matematika SMP, Materi Matematika SMA/SMK, Contoh Soal dan Pembahasan
Belajar Menghitung Prosentase Keuntungan Dagang

Belajar Menghitung Prosentase Keuntungan Dagang

Sebelum Rumus Matematika Mengucapkan Selamat Tahun Baru 2013 yang esok hari akan berganti tahun, dan kita semua akan meninggalkan tahun 2012. Namun kali ini kita akan belajar menghitung prosentase keuntungan dagang, yang memang artikel ini cukup panjang. Karena ada beberapa contoh untuk melakukan perbandingan tersebut, langsung aja ke contoh saja yah, biar tidak terlalu bertele-tele.


Untung adalah kondisi dimana harga penjualan lebih besar dari pada harga pembelian. Dapat diartikan seperti:

Untung = Harga Penjualan > Harga Pembelian

Sedangkan Rugi adalah kondisi dimana harga penjualan lebih kecil daripada harga pembelian.

Rugi = Harga Penjualan < Harga Pembelian 

Untuk menemukan Jumlah Keuntungan, rumusnya:

Harga Penjualan - Harga Pembelian 

Sedangkan untuk menentukan jumlah kerugian, rumusnya adalah:

Harga Pembelian - Harga Penjualan 

Contoh:

Pak Joni Membeli sebuah sepeda seharga Rp. 90.000,- . Lalu dijualnya lagi dengan harga Rp. 100.000,-. Pertanyaannya:
a. Untung atau Rugi kah Pak Joni?
b. Berapa Besar Keuntungan/Kerugian Pak Joni?

Jawaban:

Karena soal pertama hanya menanyakan Untung atau Rugi kah Pak Joni, dan jika dibaca soalnya adalah Harga Jual lebih besar dari Harga Beli yaitu : Harga Jual > Harga Beli, maka Pak Joni Untung.

Sedangkan untuk pertanyaan kedua, karena Pak Joni untung, jadi rumus yang harus digunakan adalah Harga Penjualan - Harga Pembelian. Sehingga:

Besar Keuntungan = Harga Penjualan - Harga Pembelian

Besar Keuntungan = Rp. 100.000,- - Rp. 90.000,- 

Besar Keuntungan = Rp. 10.000,-

Jadi, Keuntungan Pak Joni sebesar Rp. 10.000,-

Karena kita telah mempelajari keuntungan dan kerugian dari harga penjualan dan pembelian, kali ini kita akan menentukan Prosentase Keuntungan dari Soal diatas, yaitu:

Jawaban:

Pertama kita harus mengetahui besar keuntungan yang didapat yaitu Rp. 10.000,-

Rumus:

Presentasi Untung = Untung : Harga Pembelian x 100 %

Presentasi Untung = 10.000 : 90.000 x 100 %

Presentasi Untung = 0,1 x 100 %

Presentasi Untung = 10 %

Jadi, prosentase keuntungan dari soal diatas adalah 10 %.
Belajar Operasi Hitung Campuran pada Pecahan

Belajar Operasi Hitung Campuran pada Pecahan

Rasanya sudah lama gak menulis, karena ada seoarang fans yang bertanya tentang menentukan selisih usia Ayah dan Ibu, maka ada baiknya menulis kembali dan mengingatkan kembali kepada teman-teman bagaimana cara hitung operasi campuran pada pecahan.

Layaknya Rumus Matematika KABATAKU, tentu teman-teman tahu kan artinya dari KABATAKU (Kali, Bagi, Tambah, Kurang

Untuk mengerjakan operasi hitung campuran pada pecahan, berlaku aturan:
1. Perkalian dan pembagian dikerjakan terlebih dahulu daripada penjumlahan dan pengurangan.
2. Jika dalam soal terdapat tanda kurung, kerjakan terlebih dahulu yang diberi tanda kurung. 

Contoh:

1.  Perkalian dikerjakan terlebih dahulu

2. Mengubah Pecahan Campuran Menjadi Pecahan Biasa



Nah, diatas merupakan salah satu contoh untuk menghitung campuran pada pecahan, kali ini kita akan mengerjakan soal berikut:

Soal:

Diketahui:
a. Jumlah Umur Ayah dan Umur Ibu adalah 90 tahun
b. Umur ayah : umur ibu = 8 :7

Ditanyatak:
Berapa tahun umur ayah?

Jawab,

Jadi, Umur ayah adalah 48 tahun
Bilangan Bulat dan Lambangnya

Bilangan Bulat dan Lambangnya

Tentunya waktu Sekolah Dasar kita telah mengenal yang disebut dengan bilangan bulat, kali ini kita akan memahami dan mengulas kembali Bilangan Bulat dan Lambangnya, yaitu:
A. Bilangan Positif dan Bilangan Negatif
B. Membandingkan dan Mengurutkan Bilangan Bulat
Dari kedua hal yang akan kita bahas kali ini, ada baiknya kita mengulang kembali cerita semasa di sekolah dasar.  Di antaranya adalah bagaimana membilang banyak benda. Banyak benda tersebut kemudian dinyatakan dengan bilangn 0, 1, 2, 3, dan seterusnya seuai dengan banyak bendanya. Karena itu, bilangan 0, 1, 2, 3, ... disebut bilangan cacah. 

Apakah semua situasi dapat dilambangkan dengan bilangan cacah? sebagai contoh, dapatkah bilangan cacah digunakan untuk menjelaskan posisi seekor burung yang hinggap di puncak tiang layar sebuah perahu nelayan yang tingginnya 3 meter, dan posisi pemilik perahu tersebut yang sedang menyelam di kedalaman 3 meter?
Posisi 3 meter di atas permukaan laut dapat dilambangkan dengan +3, atau disingkat 3. Karena jarak 3 meter di atas permukaan laut sama dengan 3 meter di bawah permukaan laut, posisi 3 meter di bawah permukaan laut dilambangkan dengan -3 dibaca negatif 3. Keduanya dapat digambarkan pada sebuah garis bilangan vertikal (Gbr 1.a) dan horisontal (Gbr 1.b) seperti berikut:
Garis bilangan himpunan bilangan bulat digambarkan seperti berikut:

Contoh:
a. Tulislah bilangan bulat mulai -5 sampai dengan 4. 
    Penyelesaian:
    Bilangan bulat dari -5 sampai 4 adalah -5, -4, -3, -2, -1, 0, 1, 2, 3, 4.
    Penyelasaian:
    Bilangan bulat genap antara -6 dan 11 adalah -4, -2, 0, 2, 4, 6, 8, 10

b. Tulislah bilangan bulat genap antara -6 dan 11
    Kegiatan
    - Gambar garis bilangan untuk bilangan bulat
    - Bilangan berapakah yang letaknya di sebelah kanan 0 dan jaraknya sama dengan jarak dari 0 ke -4?
    - Berapakah hasil penjumlahan -4 dengan lawannya?
    - Berapa lawan dari 6?
    - Berapa lawan dari -5?

Tanpa melihat garis bilangan, sebutkan lawan dari 12
Tanpa melihat garis bilangan, sebutkan lawan dari -15

B. Membandingkan dan Mengurutkan Bilangan Bulat

Perhatikan 3 dan -3 pada garis bilangan berikut.

Berapa satuankah jarak dari 0 ke 3? Berapa satuankah jarak dari 0 ke -3? Dua bilangan disebut berlawanan apabila berjarak sama dari 0 para garis bilangan, tetapi arahnya berlawanan. Bilangan apalagi yang saling berlawanan?

Pada Garis Bilangan:
  • Semakin ke kanan, nilai bilangan semakin besar.
  • Semakin ke kiri, nilai bilangan semakin kecil nilai.
Contoh 2:
 -4 terletak di sebelah kanan -7, maka -4 > -7.
Memahami Ukuran Perumusan Data

Memahami Ukuran Perumusan Data

Berikut ini kita membahas tentang ukuran perumusan data atau ukuran tendensi tunggal yang mewakili data ada tiga buah yaitu mean, median, dan modus.

1. Mean
Mean adalah rata-rata hitung suatu data. Mean diitung dengan cara membagi jumlah nilai data dengan banyaknya data. Mean atau rata-rata hitung disebut juga rataan atau rata-rata. 
Misalnya X1, X2, X3, ... Xn adalah nilai data-nilai data dari sekumpulan data yang banyaknya n buah, maka rata-ratanya adalah:
Untuk data kelompok, mean dapat dicari dengan:
Contoh:
1. Diberikan nilai ulangan lima orang siswa pada mata pelajaran matematika dan fisika. 
Dari tebal di atas, pelajaran apakah yang lebih dipahami, matematika atau fisika?


Karena rata-rata nilai matematika lebih tinggi dari rata-rata nilai fisika, maka hal ini menunjukkan bahwa siswa lebih memahami mata pelajaran matematika.

2. Diberikan data tinggi bibit pohon adenium
Dari data tinggi bibit pohon adenium tersebut, beberapa rata-rata tinggi bibit tersebut? (dalam cm)
Penyelesaian:
Jadi tinggi rata-rata dari bibit pohon adenium adalah 9,4 cm. 

Latihan:
1. Tentukan jangkauan dan rata-rata data tunggal 4, 6, 2, 7, 11, 3.
2. Jumlah maksimum ekspor kepala sawit suatu negara sebesar 56.000 ton dan jumlah minimumnya 31.550 ton. Berapakah range dari ekspor kelapa sawit tersebut?
3. Tentukan rata-rata hingga dari data:
a. 6, 5, 9, 7, 8, 8, 7, 6
b. 6, 8, 5, 1, 6, 8, 5, 9, 6, 6, 8, 7
4. Setelah dilakukan ujian matematika, diperoleh nilai sebagai berikut.
    7, 8, 9, 6, 8, 6, 9, 7, 8, 9
   10, 5, 7, 9, 8, 6, 6, 8, 9, 7
    7, 6, 9, 8, 7, 6, 8, 9, 6, 8
Jika siswa yang dinyatakan lulus adalah yang mempunyai nilai di atas rata-rata, tentukan jumlah siswa yang tidak lulus. 
5. Rata-rata nilai dari 40 anak adalah 8,6. Jika dua anak keluar dari kelompok tersebut, rata-rata nilai itu menjadi 8,5. Berapakah jumlah nilai kedua anak tersebut?
 
Dua Bangun Datar yang Kongruen

Dua Bangun Datar yang Kongruen

Dua Bangun Datar yang Kongruen
Berikut ini kita akan membahas tentang Dua Bangun Datar uang Kongruen (Sama dan Sebagun) 
Perhatikan gambar pencerminan bangun datar berikut.
Belah ketupat ABCD dicerminkan terhadap garis lurus l sehingga terbentuk bayangan belah ketupat A'B'C'D. AB=A'B', BC=B'C', CD=C'D, DA=DA' dengan D tetap. Mengapa titik D tetap?
Belah ketupat ABCD dan A'BCD memiliki bentuk dan ukuran yang sama. Oleh sebab itu kedua bangun tersebut kongruen atau sama dan sebangun. 
Ditulis ABCD ~= A'B'CD.

"Bangun datar dikatakan kongruen jika dan hanya jika bangun-bangun datar tersebut mempunyai bentuk dan ukuran yang sama".

Latihan
1. Buatlah jajargenjang ABCD dan EFGH seperti gambar di bawah ini.
2. Guntinglah kdeua gambar tersebut dengan mengikuti sisi-sisinya
3. Tempelkan jajargenjang ABCD di atas jajargenjang EFGH sedemikian hingga  menutup dengan sempurna jajargenjang EFGH
4. Sekarang perhatian masing-masing dan sudut yang saling berhimpitan
5. Diskusikan dengan teman, apakah pada kedua bangun di atas terdapat pasangan sisi-sisi yang sama panjang dan sudut-sudut yang sama besar? Apakah kedua segitiga itu kongruen? Jelaskan alasanmu.
Belajar Mengulas Rumus Bangun Datar

Belajar Mengulas Rumus Bangun Datar

Pengertian Bangun Datar
Bangun datar adalah bagian dari bidang datar yang dibatasi oleh garis-garis lurus atau lengkung (Imam Roji, 1997).
Bangun datar dapat didefinisikan sebagai bangun yang rata yang mempunyai dua demensi yaitu panjang dan lebar, tetapi tidak mempunyai tinggi atau tebal (Julius Hambali, Siskandar, dan Mohamad Rohmad, 1996).
Berdasarkan pengertian tersebut dapat ditegaskan bahwa bangun datar merupakan bangun dua demensi yang hanya memiliki panjang dan lebar, yang dibatasi oleh garis lurus atau lengkung.


Rumus Persegi

Luas = Sisi (s)2
Keliling = Sisi (s) x 4




Rumus Persegi Panjang

Luas = Panjang (p) x Lebar (l)
Keliling = Panjang (p) x 2 + Lebar (l) x 2




Rumus Segitiga

Luas = ½ x Alas (a) x Tinggi (t)
Panjang sisi miring segitiga siku-siku dicari dengan rumus Phytagoras (A2 + B2 = C2)





Rumus Jajar Genjang

Luas = Alas (a) x Tinggi (t)





Rumus Trapesium

Luas = ½ x jumlah sisi sejajar x tinggi (t) 




Rumus Layang - Layang

Luas = ½ x diagonal (d) 1 x diagonal (d) 2




Rumus Belah Ketupat

Luas = ½ x diagonal (d) 1 x diagonal (d) 2





 
Rumus Lingkaran 

Luas = π (pi) x jari-jari (r)2

Mengenal Statistika - Desil pada Data Tunggal

Mengenal Statistika - Desil pada Data Tunggal

Desil adalah nilai-nilai yang membagi susunan data menjadi 10 bagian yang sama banyak. Dengan demikian nilai-nilai dari desil yaitu ke-1 (D1), desil ke-2 (D2), desil ke-3 (D3) dan seterusnya sampai D9.

Desil pada Data Tunggal

Penentuan nilai D1, D2, D3, dan seterusnya ditentukan oleh letaknnya, dengan rumus:


dengan i = 1, 2, 3, ...., 9 dan n adalah cacah data

Contoh:

Cari D1, D3, D5, dan D9 dari data berikut.

{10, 13, 9, 14, 17, 9, 21, 19, 19, 22, 35, 23, 25, 35, 35, 29, 43, 47}

Dengan n = 20, diperoleh:
D1 = data ke- 1/10 (20 +1)
      = data ke- 2 1/10
      = data ke-2 + 1/10 (data ke-3 - data ke-2)
      = 9 + 1/10 (10-9) = 9,1

D3 = data ke- 3/10 (20+1)
      = data ke- 6 3/10
      = data ke- 6 + 3/10 (data ke-7 - data ke-6)
      = 17 + 3/10 (19-17) = 17,6

D5 = data ke- 5/10 (20+1)
      = data ke- 10 5/10
      = data ke- 10 + 5/10 (data ke-11 - data ke-10)
      = 22 + 5/10 (23-22) = 22,5

D9 = data ke- 9/10 (20+1)
      = data ke- 18 9/10
      = data ke- 18 + 9/10 (data ke-19 - data ke-18)
      = 39 + 9/10 (43 - 39) 39 + 36/10 = 42,6

Mengetahui Rumus Menghitung Luas Permukaan Tabung

Mengetahui Rumus Menghitung Luas Permukaan Tabung

Pengertian Tabung
Tabung adalah bangun ruang yang diatasi oleh dua sisi yang kongruen dan sejajar yang berbentuk lingkaran serta sebuah sisi lengkung.

Ciri - Ciri Tabung
1. Mempunyai 2 rusuk
2. Alas dan tutusnya berupa lingkaran
3. Mempunyai 3 bidang sisi (bidang alas, bidang selimut dan bidang tutup)


Gambar Tabung



Keterangan:

r = jari-jari tutup/alas tabung

t= tinggi tabung






Jenis - Jenis Rumus Tabung

Volume tabung = luas alas x tinggi

Luas alas = luas lingkaran = πr2

Volume tabung = π r 2 t

Keliling lingkaran alas/tutup = 2πr

Luas Selimut= 2πrt

Luas Permukaan Tabung = 2 x luas alas + Luas selimut tabung

Luas Permukaan Tabung = 2 (π r 2 )+ 2 π r t = 2 π r ( r + t )



Jadi rumus luas permukaan tabung adalah sebagai berikut :
 


Contoh soal:

Pak Oki adalah seorang pengrajin panci aluminium. Beliau mendapatkan pesanan sebuah panci besar dari pelanggannya.  Bila pelanggan menginginkan panci itu memiliki ukuran diameter 50cm dan tinggi 70 cm. Tentukan  luas bahan yang dibutuhkan untuk membuat panci itu!
Penyelesaian:
Diketahui:       d = 50 cm,  r = 25 cm
                        t = 70 cm
ditanyakan:     Luas permukaan panci ?
Jawab:
Luas panci   =  2 x phi x r (r + t)
 = 2 x 3,14 x 25 (25 + 70 )
 =157 x 95
 = 14915 cm2
Jadi luas bahan yang diperlukan untuk membuat panci itu adalah 14915 cm2
Bagian-bagian lingkaran dan rumus-rumusnya

Bagian-bagian lingkaran dan rumus-rumusnya

Kali ini Rumus Matematika akan membahasa Bagian-bagian lingkaran dan rumus-rumusnya, yang perlu kita fahami terlebih dahulu adalah Unsur-unsur Lingkaran


dari gambar terlihat bahwa panjangnya diameter ( d ) sama dengan 2 kali jari-jari ( r ) lingkaran.

AB = OA + OB

sehingaga berlaku hubungan antara diameter dan jari-jari lingkaran :







Keliling dan Luas Lingkaran

Keliling Lingkaran ( K ) :


Keliling lingkaran biasanya juga dihubungkan dengan jarak tempuh suatu lingkaran / roda yang berputar.
hubungan antara jarak tempuh ( s ), keliling lingkaran ( K ) dan banyak putaran ( n ) adalah :





Luas Lingkaran ( L ) :









Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh soal di bawah ini :

Hitunglah keliling dan luas daerah yang diarsir di bawah ini....
 
untuk menghitung keliling pada prinsipnya adalah menghitung panjang garis tepi suatu bidang.



( i ) K = K1/2O + K1/2O + 28 + 28 = K O + 56 = π d + 56 = 22/7 . 14 + 56 = 100 cm


( ii ) K = K1/4O + 10 + 10= 1/4. 2 . π . r + 20 = 1/4. 2 . 3,14.10 + 20 = 15,7 + 20 = 35,7 cm

( iii ) K = K1/2O + 21 + 21 + 21 = 1/2 π d + 63 = 1/2 22/7 . 21 + 63 = 96 cm

( iv ) K = K1/2Obesar + K1/2Okecil + K1/2Okecil  = K1/2Obesar + KOkecil

           = 1/2 π d1 + π d2 = 1/2 .3,14.20 + 3,14.10 = 62,8 cm


( i ) L = Lpersegi panjang - L1/2O - L1/2O = p.l - L O = 28.14 - 1/4.22/7 .142 = 238 cm2

( ii ) L = L1/4O = 1/4 . π . r2 = 1/4.3,14.102 = 78,5 cm2

( iii ) L = Lpersegi + L1/2O = s2 + 1/2 .1/4 π d2 = 212 1/2. 1/4. 22/7 . 212 = 614,25 cm2

( iv ) L = L1/2Obesar - L1/2Okecil + L1/2Okecil  = L1/2Obesar = 1/2 .1/4 .3,14.202 = 157 cm2


bagaimana....  sudah ada gambaran tentang materi lingkaran ini ?

 Jika sudah Coba kerjakan soal tentang luas lingkaran di bawah ini...

Gimana ? ada masalah ? klo masih bingung saya kasih caranya... jadi kalian tinggal menghitung luasnya...

( a ). bidang yang pertama tidak ada masalah kan? ya.. rumusnya : L = Lpersegi - L1/4O

(b ). bidang yang kedua ada hubungannya dengan bidang yang pertama... coba kalian perhatikan sebenarnya luas bidang yang kedua ini sama dengan dua kali luas bidang yang pertama sehingga  L = ( Lpersegi - L1/4O ) . 2

( c ). bidang yang ketiga juga ada hubungannya dengan bidang yang kedua... yaitu luas persegi dikurangi luas bidang yang kedua... Hmm.. tapi klo merasa rumit.. juga bisa dicari dengan cara L = L1/2O - Lpersegi 

biar lebih jelas... kalian praktekkan sendiri dengan membuat 2 buah bidang seperempat lingkaran... kemudian tumpang tindihkan seperti bidang yang ke tiga... bagian yang diarsir merupakan bagian yang saling tumpang tindih...yang luasnya sama dengan 2 kali luas seperempat lingkaran dikurangi luas persegi...
Perbandingan Keliling dan Luas Lingkaran dengan Jari-jarinya








Jadi jika ditanyakan luas lingkaran yang diketahui perbandingan jari-jari dengan lingkaran lain yang telah diketahui luasnya Kita tidak perlu mencari panjang jari-jarinya terlebih dahulu.... cukup dengan rumus perbandingan di atas.... 
Sebuah lingkaran mempunyai luas 100 cm2, jika jari-jarinya diperbesar menjadi 2 kali maka luasnya menjadi?


 



dikali silang jadinya....


Belajar Rumus Logika Matemika Dasar

Belajar Rumus Logika Matemika Dasar

Kali ini Rumus Matemtika akan membahas dan mempelajari tentang Rumus Logika Matematika Dasar yang sering digunakan untuk tingkat SMA sederajat bahkan suka digunakan oleh UAN SNMPTN SPMB SIMAK UI. 

1. Persyaratan atau Kalimat
Pernyataan adalah kalimat yang mempunyai nilai benar atau salah, tetapi tidak sekaligus benar dan salah. 
Ada dua jenis pernyataan matematika, yaitu:
Kalimat Tertutup, merupakan pernyataan yang nilai kebenarannya sudah pasti.
Contoh:
a) 5 x 4  = 20 [Pernyataan tertutup yang benar]
b) 5 + 4 = 20 [Pernyataan tertutup yang salah]

Kalimat terbuka, merupakan pernyataan yang kebenarannya belum pasti. 
Contoh:
a : Ada daun yang berwarna hijau
b : Gula putih rasanya manis
2. Ingkaran Pernyataan atau negasi
Ingkaran atau negasi suatu pernyataan adalah pernyataan yang menyangkal pernyataan yang diberikan. Ingkaran suatu pernyataan dapat dibentuk dengan menambah "Tidak benar bahwa ... " di depan pernyataan yang diingkar. Ingkaran pernyataan adalah ~p.
Contoh:
Misalkan pernyataan p : Tembakau yang mengandung nikotin.
Ingkaran penyataan p adalah ~ p. Tidak benar bahwa tembakau mengandung nikotin.

Tabel kebenaran dari ingkaran



3. Pernyataan Majemuk
a. Konjungsi
Pernyataan p dengan q digabung dengan kata hubung logika "dan" sehingga membentuk pernyataan majemuk "p dan q" yang disebut konjungsi. Konjungsi "p dan q" dilambangkan dengan " p ^ q".



b. Disjungsi 
Pernyataan p dengan q dapat digabung dengan kata hubung logika "atau" sehingga membentuk pernyataan majemuk "p atau q" yang disebut disjungsi. Disjungsi p atau q dilambangkan dnegan " p v q".




c. Implikasi
Implikasi "jika p maka q" dilambangkan "p => q".



d. Biimplikasi
Biimplikasi "p jika dan hanya jika q" dilambangkan " p <=> q ".




4. Ekuivalensi Pernyataan - Pernyataan Majemuk





5. Konvers, Invers, dan Kontraposisi
Dari sebuah implikasi dapat diturunkan pernyataan yang disebut konvers, invers dan kontraposisi dari implikasi tersebut.





6. Pernyataan berkuantor dan ingkarannya.
Teori Peluang - Ruang Sampel dan Titik Sampel

Teori Peluang - Ruang Sampel dan Titik Sampel

Kali ini Rumus Matematika akan membahas tentang Pengertian Ruang Sampel dan Titik Sampel, dimana:

Definisi Ruang Sampel :
Ruang sampel adalah himpunan dari semua hasil yang mungkin pada suatu percobaan/kejadian.
Ruang Sampel suatu percobaan dapat dinyatakan dalam bentuk diagram pohon atau tabel.

Definisi Titik Sampel:
Titik Sampel adalah anggota-anggota dari ruang sampel atau kemungkinan-kemungkinan yang muncul.
Contoh:
1. Pada percobaan melempar dua buah mata uang logam (koin) homogen yang berisi angka (A) dan gambar (G) sebanyak satu kali. Tentukan ruang sampel percobaan tersebut.

Jawab:

a. Dengan Diagram Pohon
 

Kejadian yang mungkin:
AA : Muncul sisi angka pada kedua koin
AG : Muncul sisi angka pada koin 1 dan sisi gambar pada koin 2

b. Dengan Tabel
 
Ruang sampel = {(A,A), (A,G), (G,A), (G,G)}
Banyak titik sampel ada 4 yaitu (A,A), (A,G), (G,A), dan (G,G).


Dari contoh soal dan jawaban diatas, kini kita akan membahas tentang pengertian dari Peluang Suatu Kejadian, yaitu:

Definisi Kejadian:
Kejadian atau peristiwa merupakan himpunan bagian dari ruang sampel.

Definisi Peluang:
Peluang Suatu kejadian yang diinginkan adalah perbandingan banyaknya titik sampel kejadian diinginkan itu dengan banyaknya anggota ruang sampel kejadian tersebut. Misalnya A adalah suatu kejadian yang diinginkan, maka nilai peluang kejadian A dinyatakan dengan   
Peluang disebut juga dengan nilai kemungkinan.
Contoh :
Pada percobaan melempar sebuah dadu bermata 6, pada ruang sampelnya terdapat sebanyak 6 titik sampel, yaitu munculnya sisi dadu bermata 1, 2, 3, 4, 5, dan 6.
Kejadian-kejadian yang mungkin terjadi misalnya :
  • Munculnya mata dadu ganjil
  • Munculnya mata dadu genap
  • Munculnya mata dadu prima


Jika pada percobaan tersebut diinginkan  kejadian munculnya mata dadu prima, maka mata dadu yang diharapkan adalah munculnya mata dadu 2, 3, dan 5, atau sebanyak 3 titik sampel. Sedang banyaknya ruang sampel adalah 6, maka peluang kejadian munculnya mata dadu prima adalah

Atau:
Menyatakan nilai peluang suatu kejadian pada  suatu percobaan dapat dinyatakan dengan menggunakan cara :


Batas-Batas Nilai Peluang
Nilai peluang suatu kejadian (P) memenuhi sifat , yang berarti
Jika P = 0, maka kejadian tersebut tidak pernah terjadi atau suatu kemustahilan
Jika P = 1, maka kejadian tersebut merupakan kepastian.
Jika A adalah suatu kejadian yang terjadi, dan A’ adalah suatu kejadian dimana A tidak terjadi,
maka :


Contoh:

1. Sebuah dadu berbentuk mata enam dilempar sekali. Tentukan nilai peluang :
    a. munculnya mata dadu bilangan asli
    b. munculnya mata dadu 7
    Jawab :
    a.  Nilai peluang munculnya mata dadu bilangan asli adalah 1, karena merupakan suatu kepastian.
    b.  Nilai peluang munculnya mata dadu 7 adalah 0, karena merupakan suatu kemustahilan
  
Frekuensi Harapan

Frekuensi Harapan (fh) dari suatu kejadian adalah banyaknya kemunculan kejadian yang dimaksud dalam beberapa kali percobaan. 
Atau dirumuskan seperti:

Contoh:
1. Sebuah dadu bermata enam dilempar sebanyak 120 kali. Berapa harapan akan muncul mata dadu 6?